Semarak Hari Puisi Indonesia 2026 di Pekanbaru, TBM Cahaya Rumah Tampil Memukau Lewat Aksi Anak-Anak Berbakat

PEKANBARU – Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026 di Pekanbaru berlangsung meriah dan penuh semangat. Digelar di Anjungan Kampar, Bandar Serai Raja Ali Haji, Jumat (17/7/2026), kegiatan ini menjadi ruang pertemuan para penyair, pegiat sastra, komunitas literasi, hingga generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap dunia puisi.

Momen tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga denyut sastra Indonesia melalui karya-karya yang lahir dari berbagai daerah. Hari Puisi Indonesia sendiri memiliki sejarah yang kuat. Peringatan ini pertama kali dideklarasikan pada 22 November 2012 di Anjungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, oleh puluhan penyair dari seluruh Indonesia.
Deklarasi itu dipelopori oleh sejumlah tokoh sastra nasional, di antaranya Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Datuk Rida K. Liamsi, Kazzaini Ks, Kunni Masrohanti, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, serta banyak penyair lainnya dari Sabang hingga Merauke.

Hari Puisi Indonesia kemudian ditetapkan bertepatan dengan hari lahir penyair legendaris Chairil Anwar, yakni 26 Juli 1922. Sejak saat itu, peringatan Hari Puisi Indonesia terus digaungkan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan sastra nasional sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap puisi.

Pada perayaan tahun ini, sejumlah nama besar sastra dan budaya Riau turut hadir memeriahkan acara. Di antaranya Datuk Rida K. Liamsi, A. Aris Abeba, Taufik Ikram Jamil selaku Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Jefry Al Malay selaku Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR), Fakhunnas M.A. Jabbar, Husnu Abadi, Kunni Masrohanti yang juga menjabat Ketua Perempuan Penyair Indonesia, Willy Ana sebagai penggagas Festival Sastra Bengkulu, Syafruddin Sei. Gergaji, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi lainnya.

Di tengah penampilan para penyair senior yang sarat makna, perhatian penonton justru banyak tertuju kepada penampilan anak-anak dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cahaya Rumah.
Komunitas literasi yang selama ini aktif membina anak-anak tersebut tampil dalam tiga sesi pertunjukan yang memadukan pembacaan puisi, kolaborasi seni, serta atraksi panggung yang menghibur. Penampilan itu sukses menghadirkan suasana berbeda dan membuat para penonton larut dalam tepuk tangan yang meriah.

Empat anak berbakat yang tampil adalah Muhammad Tegar, Rindu Filia, Nyi Ayu Siti Julaiha, dan si kecil Nawaitu Flliora Linchpin. Meski masih berusia belia, mereka mampu menunjukkan rasa percaya diri yang luar biasa saat membacakan karya sastra di hadapan para penyair ternama dan ratusan penonton.
Ekspresi, penghayatan, serta keberanian mereka berdiri di atas panggung mendapat apresiasi tinggi. Tak sedikit penonton yang memberikan pujian setelah penampilan usai. Bahkan, sejumlah pengunjung memberikan saweran sebagai bentuk penghargaan dan dukungan atas semangat anak-anak dalam berkesenian.

Suasana penuh kehangatan itu menjadi bukti bahwa dunia sastra mampu diterima oleh semua kalangan, termasuk anak-anak, ketika disajikan dengan cara yang menyenangkan dan membangun rasa percaya diri.
Pendiri TBM Cahaya Rumah, Muhammad Asqalani eNeSTe, mengatakan bahwa keikutsertaan anak-anak dalam panggung Hari Puisi Indonesia bukan semata-mata untuk tampil, melainkan sebagai proses pembelajaran agar mereka berani mengekspresikan diri sejak usia dini.

Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang perlu diberi ruang untuk berkembang. Panggung sastra menjadi salah satu media yang mampu melatih keberanian, kemampuan berbicara di depan umum, hingga membangun karakter.

"Anak-anak mungkin belum dikenal banyak orang. Namun ketika mereka berdiri di atas panggung dan membacakan karya, semua mata akan tertuju kepada mereka. Di situlah rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.

Ia menambahkan, TBM Cahaya Rumah terus berupaya menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk belajar di luar lingkungan sekolah. Melalui berbagai kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, hingga tampil di depan publik, anak-anak diharapkan mampu menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

Menurut Asqalani, pendidikan karakter tidak hanya dibentuk melalui proses belajar di sekolah. Lingkungan literasi yang terbuka juga memiliki peran besar dalam membangun keberanian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan sosial anak.

"Harapan kami sederhana. Semoga semakin banyak anak yang datang ke TBM Cahaya Rumah untuk belajar, membaca, menulis, dan berkarya. Prestasi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Anak-anak harus memiliki ruang lain untuk terus berkembang," katanya.

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 di Pekanbaru pun menjadi bukti bahwa sastra tidak hanya menjadi milik para penyair senior. Kehadiran generasi muda, khususnya anak-anak, memberikan harapan baru bahwa estafet dunia literasi akan terus berlanjut.

Melalui pembinaan yang konsisten dari berbagai komunitas literasi seperti TBM Cahaya Rumah, puisi tidak hanya menjadi karya yang dibaca, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Semangat itulah yang terasa sepanjang perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini. Di balik bait-bait puisi yang dibacakan, tersimpan optimisme bahwa masa depan sastra Indonesia akan tetap hidup selama masih ada anak-anak yang berani bermimpi, berkarya, dan berdiri percaya diri di atas panggung.(Leli)