254 Hotspot Terdeteksi, Pemkab Siak Perkuat Mitigasi Hadapi Ancaman Super El Nino

Siak – Pemerintah Kabupaten Siak meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring meningkatnya risiko akibat fenomena Super El Nino. Melalui apel gelar pasukan siaga, pemerintah memperkuat sinergi lintas sektor dengan mengedepankan patroli terpadu, deteksi dini titik panas (hotspot), hingga kesiapsiagaan personel dan peralatan di wilayah-wilayah rawan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah terjadinya kebakaran yang berpotensi meluas di kawasan hutan, lahan gambut, perkebunan, maupun lahan milik masyarakat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak hingga 29 Juni 2026, telah terdeteksi sebanyak 254 hotspot dan 45 fire spot. Dari total 14 kecamatan di Kabupaten Siak, sebanyak 11 kecamatan masuk kategori rawan karhutla karena didominasi lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau.

Wakil Bupati Siak Syamsurizal menegaskan bahwa ancaman karhutla tidak dapat ditangani oleh satu instansi saja. Menurutnya, diperlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan, hingga masyarakat agar upaya pencegahan berjalan efektif.

Hal itu disampaikannya saat memimpin Apel Gelar Pasukan Siaga Karhutla di Halaman Kantor Bupati Siak, Kompleks Perkantoran Tanjung Agung, Selasa (30/6/2026).

"Karhutla tidak mengenal batasan dan tidak bisa dilakukan secara parsial. Yang diperlukan adalah kerja sama, koordinasi, dan komunikasi yang baik sehingga setiap potensi kebakaran dapat dicegah sedini mungkin," ujar Syamsurizal.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Di tengah kondisi cuaca yang semakin panas, tindakan tersebut berpotensi memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.

"Kami mengimbau masyarakat pada musim kering seperti sekarang ini tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar. Kewaspadaan bersama sangat penting agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini dan tidak meluas. Kepada seluruh petugas karhutla, pastikan personel dan peralatan selalu siaga apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara menjelaskan bahwa strategi utama yang diterapkan saat ini adalah memperkuat langkah-langkah pencegahan. Selain patroli rutin di kawasan rawan, pihaknya juga mengoptimalkan sistem deteksi dini melalui pemantauan hotspot yang kemudian diverifikasi langsung di lapangan.

Menurut Novendra, setiap titik panas yang terpantau melalui sistem pemantauan belum tentu merupakan kebakaran. Oleh karena itu, BPBD bersama berbagai pihak langsung melakukan pengecekan agar dapat memastikan kondisi sebenarnya sekaligus mencegah api berkembang lebih luas.

"Kami akan terus melakukan patroli bersama perusahaan dan stakeholder, serta turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana, sehingga setiap potensi titik api dapat dicegah sejak dini," katanya.

Ia menambahkan, proses verifikasi hotspot melibatkan berbagai unsur di tingkat lokal, seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kampung, hingga pemerintah kecamatan. Pendekatan ini dinilai efektif untuk mempercepat respons apabila ditemukan indikasi kebakaran.

"Begitu kami mendapatkan data hotspot, langsung dilakukan pengecekan bersama MPA, pemerintah kampung, dan kecamatan agar tidak berkembang menjadi kebakaran," jelas Novendra.

Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya menyangkut personel, tetapi juga memastikan seluruh peralatan pendukung seperti mesin pompa, kendaraan operasional, hingga perlengkapan pemadaman berada dalam kondisi siap digunakan, terutama di kawasan gambut yang memiliki karakteristik kebakaran lebih sulit dipadamkan.

Wilayah Kabupaten Siak memang menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla karena luasnya kawasan gambut dan perkebunan. Saat musim kemarau berkepanjangan, kondisi lahan menjadi sangat kering sehingga api dapat dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.

Karena itu, keterlibatan dunia usaha menjadi salah satu aspek penting dalam sistem mitigasi yang dibangun pemerintah daerah.

Perwakilan PT Arara Abadi, Lambok Pardede, mengatakan perusahaan telah aktif melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, serta unsur terkait di wilayah Pusako dan Sungai Apit yang termasuk kawasan rawan karhutla.

Selain patroli, perusahaan juga meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar. Koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan terus diperkuat sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.

"Kami sudah melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan. Ke depan juga akan diperkuat dengan pos mitigasi agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan ketika terjadi kebakaran," ujar Lambok.

Pemerintah Kabupaten Siak berharap sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat dapat menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya karhutla. Dengan deteksi dini yang semakin optimal, patroli terpadu yang rutin dilakukan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan, potensi kebakaran diharapkan dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.

Melalui kesiapsiagaan yang terus diperkuat, Pemkab Siak optimistis mampu menghadapi ancaman musim kemarau dan fenomena Super El Nino dengan langkah-langkah pencegahan yang lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif.(*02/cinta)