Khidmat Sambut 1 Muharram, Lapas Kelas IIA Pekanbaru Perkuat Spiritualitas dan Ukhuwah Warga Binaan

Pekanbaru – Dalam suasana penuh kekhusyukan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, menggelar kegiatan pembinaan kepribadian berupa doa bersama dan makan bersama bagi warga binaan. Kegiatan yang dipusatkan di tersebut berlangsung pada Senin malam (15/06) dengan suasana religius, tertib, dan penuh makna refleksi diri.

Kegiatan peringatan 1 Muharram ini menjadi salah satu agenda pembinaan keagamaan rutin yang dikembangkan Lapas Pekanbaru sebagai upaya memperkuat nilai spiritual, moral, dan sosial di lingkungan pemasyarakatan. Seluruh warga binaan, khususnya yang tergabung dalam kamar santri, mengikuti rangkaian acara dengan antusias dan penuh penghayatan.

Kepala Lapas Pekanbaru, Yuniarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian kalender, tetapi merupakan kesempatan penting untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri secara mendalam.

Menurutnya, setiap individu, termasuk warga binaan, memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ia menekankan bahwa proses pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan pengawasan, tetapi juga pembinaan mental dan spiritual sebagai fondasi perubahan perilaku.

“Pergantian tahun Hijriah ini hendaknya menjadi titik balik untuk merenungi perjalanan hidup kita masing-masing. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Yang terpenting adalah kesadaran untuk berubah dan kemauan untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang humanis. Dengan pendekatan spiritual, diharapkan warga binaan dapat menemukan ketenangan batin, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap masa depan mereka.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa akhir tahun Hijriah yang berlangsung dalam suasana hening dan penuh kekhidmatan. Para peserta menundukkan kepala seraya memanjatkan doa atas segala perjalanan hidup di tahun sebelumnya, memohon ampunan atas kesalahan, serta berharap mendapatkan keberkahan di masa mendatang.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa awal tahun Hijriah yang dipanjatkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan di tahun baru. Suasana semakin terasa religius ketika seluruh peserta mengikuti doa secara serempak dengan penuh kesungguhan.

Selain doa bersama, kegiatan juga diisi dengan sesi muhasabah yang menjadi momen paling reflektif dalam rangkaian acara. Dalam sesi ini, warga binaan diajak untuk merenungi perjalanan hidup masing-masing, kesalahan yang pernah dilakukan, serta konsekuensi dari tindakan yang telah dilalui. Pendekatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran internal, bukan semata karena faktor eksternal.

Beberapa warga binaan tampak larut dalam suasana haru. Tidak sedikit yang meneteskan air mata sebagai bentuk penyesalan sekaligus harapan baru untuk memperbaiki diri. Momen ini menjadi gambaran bahwa pendekatan pembinaan berbasis spiritual masih memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kesadaran moral individu.

Usai sesi muhasabah, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Warga binaan dan petugas duduk bersama tanpa sekat, menciptakan suasana kebersamaan yang jarang terlihat dalam keseharian di dalam lingkungan pemasyarakatan.

Kegiatan makan bersama ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga simbol penguatan ukhuwah atau persaudaraan. Dalam konteks pembinaan, kebersamaan seperti ini penting untuk membangun rasa saling menghargai, mengurangi jarak sosial, serta memperkuat solidaritas di antara warga binaan.

Kalapas Yuniarto menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini akan terus didorong sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan di Lapas Pekanbaru. Ia berharap nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan kedisiplinan dapat tumbuh secara seimbang sehingga mampu membentuk karakter warga binaan yang lebih baik.

“Pembinaan di Lapas tidak hanya soal aturan dan pengawasan, tetapi juga soal membangun manusia seutuhnya. Ketika hati mereka tersentuh, di situlah proses perubahan yang sesungguhnya dimulai,” ujarnya.

ia menegaskan bahwa Lapas Pekanbaru berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan positif yang dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan mental dan spiritual warga binaan. Kegiatan keagamaan seperti peringatan 1 Muharram ini diharapkan menjadi salah satu sarana efektif dalam proses reintegrasi sosial.

Melalui kegiatan ini, pihak Lapas juga ingin menanamkan pesan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri tanpa memandang latar belakang kesalahan yang pernah dilakukan. Tahun baru Hijriah menjadi simbol harapan baru, pintu perubahan, dan momentum untuk meninggalkan masa lalu yang kelam menuju masa depan yang lebih baik.

Suasana kegiatan yang berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Banyak warga binaan yang mengaku mendapatkan ketenangan batin dan motivasi baru untuk menjalani masa pembinaan dengan lebih baik.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, menegaskan kembali komitmennya dalam membangun sistem pembinaan yang tidak hanya menekankan aspek keamanan, tetapi juga penguatan nilai spiritual dan kemanusiaan.

Peringatan 1 Muharram di Lapas Pekanbaru pun menjadi bukti bahwa ruang pembinaan dapat menjadi tempat tumbuhnya harapan baru, tempat di mana perubahan diri dimulai, dan tempat di mana setiap individu diberi kesempatan untuk kembali menata jalan hidupnya dengan lebih baik dan bermakna.(*02/cinta)